Para ilmuwan NASA mengatakan teleskop infra merah mereka telah menembus jauh ke dalam debu bintang dan menemukan galaksi-galaksi tersembunyi yang jaraknya lebih dari 11 milyar tahun cahaya dari Bumi.
Galaksi-galaksi tersembunyi yang dilihat Spitzer
Para ilmuwan mendeskripsikan bagaimana Teleskop Ruang Angkasa Spitzer dipakai untuk menemukan galaksi-galaksi yang paling terang di jagad raya itu. Disebut paling terang karena mereka memancarkan cahaya setara dengan 10 trilyun cahaya Matahari. Namun karena jaraknya terlalu jauh dan tertutup debu kosmis, maka galaksi-galaksi itu baru terlihat sekarang.”Kami melihat galaksi-galaksi yang biasanya tidak tampak karena tertutup debu,” kata Dan Weedman dari Cornell University, Ithaca, New York, yang menuliskan penemuan ini di Astrophysical Journal Letters. “Dengan mempelajari galaksi-galaksi ini kami bisa lebih memahami sejarah galaksi kita sendiri.”
Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah dari mana debu-debu penutup galaksi itu berasal? Jawabannya masih belum jelas. Menurut para astronom, debu kosmis biasanya berasal dari pembakaran bintang, namun bagaimana mereka bisa menyelimuti suatu galaksi masih menjadi tanda tanya.
Misteri lain adalah mengenai cahaya terang luar biasa yang dimiliki galaksi-galaksi ini. Para astronom menduga cahaya itu berasal dari quasar-quasar muda yang sedikit lain dari biasanya, yang mungkin bersembunyi di balik gumpalan debu. Quasar adalah objek paling terang di jagad raya seperti lampu raksasa di tengah galaksi.
Selain itu para astronom juga bertanya-tanya apakah galaksi-galaksi terang dan berdebu seperti ini akan menjadi redup suatu saat nanti seperti galaksi kita, Bima Sakti. Semua pertanyaan tersebut akan berusaha dijawab lewat penelitian lebih jauh menggunakan Spitzer.
Spitzer adalah teleskop infra merah seharga 670 juta dollar diluncurkan ke orbitnya bulan Agustus 2003, dan dioperasikan oleh Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena. Kemampuan infra merahnya membuat Spitzer mampu melihat objek-objek yang tertutup gas dan debu kosmis.
Sumber Reference :
http://www.kompas.com/teknologi/news


Kapan Lembaga Astronomi Indonesia bisa punya yang kaya ginian yaa?
kalo bisa pegatahuan tentang antariksa lebih di perlebar dan juga bersama dengan imagenya